Perjalanan Sebuah Karya

Thursday, July 22, 2021

Antologi Mutiara

Perjalanan sebuah karya, kita nggak tahu akan berhenti sampai di mana. Yang pasti jika kita memiliki sebuah karya, kita nggak boleh putus asa mengawal sampai ia menemui pelabuhan terakhirnya. Yaaa, kayak cintamu ituuu, yang setelah jatuh bangun akhirnya sampai di pelabuhan terakhir, ciye ciyee...

Pada zaman dahulu kala, saat media cetak masih jaya-jayanya, ada sebuah majalah wanita yang ajeg menyelenggarakan lomba menulis cerpen dan cerber setiap tahunnya. Dan saya ini sebagai orang yang mengaku suka menulis juga cukup ajeg mengikuti lomba tersebut -- walau ajeg nggak menang juga. Hiks.

Namun demikian dalam sebuah kompetisi, kemenangan adalah bukan menjadi hal yang utama. Ada hal lain yang lebih baik daripada itu (menghibur diri kayaknya, nih), yaitu bertambahnya folder naskahmu dengan file-file karya yang belum menemukan jodohnya. 

Ingat, ya. Camkan, ya. Naskah yang belum menemukan jodoh. Bukan naskah gagal ataupun naskah jelek. Bukan. Sama sekali bukan. Sebab, bila saya baca-baca ulang, naskahnya tuh sebenarnya bagus buangeeet (kepedean sendiri).

Alkisah beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 20 Agustus 2020, saya melihat pengumuman lomba menulis cerpen dari sippublishing. Tema lomba adalah "Harapan", genrenya bebas, pendaftarannya gratis, dan tidak ada syarat pembelian buku. Selain itu, 30 karya terbaik akan dibukukan dalam buku antologi cerpen berjudul "Musim Terbaik." Hadiahnya pun menarik.

Info Lomba Menulis Cerpen

Saya tertarik untuk mengikuti lomba ini, dan sepertinya saya punya deh, naskah cerpen yang temanya "Harapan."

Saya pun odal-adul naskah di folder, dan menemukan sebuah naskah berjudul "Harapan di Atas Luka." Fiuuh, melow sangat judulnya ya. Singkat cerita naskah itu saya edit seperlunya, kemudian saya kirim sebagai naskah lomba.

Apakah naskah ini berhasil keluar sebagai salah satu pemenang lomba? Atau paling tidak menjadi salah satu dari 30 yang dibukukan?

Tidak. Sayang sekali tidak, kisanak. Naskah ini kembali melangkah malu-malu masuk ke dalam folder. Malang betul nasibnya.

Saya kembali menjalani hari seperti biasa. Tidak patah hati karena penolakan bagi saya adalah hal yang biasa-biasa saja. Sudah sering sehingga sakitnya tidak terasa. Aiih.

Beberapa hari atau minggu atau bulan, setelah pengumuman pemenang, saya mendapatkan chat dari seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai wakil dari sippublishing. Beliau ini menanyakan apakah naskah "Harapan di Atas Luka" sudah saya kirim ke tempat lain karena kalau belum, ia menawarkan akan menerbitkan naskah itu dalam sebuah antologi. Tentunya saya akan dimintai biaya cetak jika nanti memesan barang satu atau dua buku. 

Jadi demikianlah, singkat cerita saya menerima tawaran tersebut, dan melalui proses yang panjang, akhirnya karya saya yang sudah mondar-mandir berharap menemukan pelabuhan terakhirnya -- menemukan jodohnya. Pada tanggal 17 Mei 2021, saya menerima kiriman paket buku antologi "Mutiara," di mana naskah saya menjadi salah satu cerita di sana.

"Harapan di Atas Luka," bercerita tentang seorang perempuan muda yang 'digantung' oleh kekasihnya. Bukan digantung dalam arti harafiah ya, tapi dicuekin. Diputus enggak, dinikahin juga belum. Ternyata kelakuan kekasihnya itu karena persoalan pribadi. Kegalauan karena nggak dapat restu dari ibunya. Ibunya si lelaki punya calon sendiri dan si lelaki ini tidak berani melawan sang ibu, bahkan hingga sang ibu meninggal.

Solusi terbaik dari si lelaki: menikahi perempuan muda itu, dan menikahi perempuan pilihan ibunya juga. Wkkkk, solusinya enakan di dia, ya? Nah, apakah solusi ini diterima oleh si perempuan muda? Bagaimana juga tanggapan perempuan yang satunya?

Kalau ingin tahu kelanjutan ceritanya, bisa pesan buku antologi "Mutiara" langsung ke sippublishing melalui DM instagram, atau bisa juga pesan ke saya, hehe. 

Lah, ujung-ujungnya koq jualan, Mbakkk?**








 

9 comments

  1. Replies
    1. Bukaan, baru niat si lelaki itu. Solusi terbaik katanya hahaha...terbaik menurut dia.

      Delete
  2. hmm cerita ttg mendua, menarik nihhhhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm...komen yang sudah dapat diperkirakan sejak sebelum masehi.

      Terima kasih, sudah singgah 🙏😊

      Delete
    2. wooooo jangan2 ini ttg kisahku #halaagh

      Delete
  3. Selamat ya, Mbak, sudah berhasil bikin antologi :)

    ReplyDelete
  4. Walaupun ga menang kompetisinya, tapi bisa masuk menjadi buku antalogi ya mba 👍😊.. tema tentang hati mendua, atau poligami atau yg related Ama hubungan 3 orang gini, selalu aja jadi 2 kubu ntar 😅. Pastinya yg wanita bakal mencak2 kalo si tokoh lelaki milih solusi dinikahin 2-2 nya 🤣. Bener mba, enakan diaaa.. jadi penasaran endingnya 😄

    ReplyDelete